Jakarta

citybooks sets foot in the Indonesian capital Jakarta, a hypermodern city where a shared past with The Netherlands still shines through.

Veronica B. Vonny

Veronica B. Vonny

The Final Ending

Akhir yang Terakhir

Audio books in English:

play The Final Ending

Listen & Read

Akidah  Gauzillah

Akidah Gauzillah

Rendezvous

Pertemuan (Rendezvous)

Audio books in English:

play Rendezvous

Listen & Read

(Geser ke bawah untuk info lebih lanjut mengenai kota dalam bahasa Indonesia)

After portraying the historical port city of Semarang in five stories, 24 photos and 24 videos in 2013, this year sees the turn of the capital Jakarta. Officially, there are ten million people living in the city itself, but the metropolitan area is home to at least double that figure. Jakarta is legendary for its traffic; together, its millions of mopeds form a glittering armada of busyness and colour.

Now enjoying a hypermodern present, the past that Jakarta shares with The Netherlands nevertheless still shines through. If you look closely, the area that used to be Batavia reveals both material and immaterial traces of tempo doeloe: street signs display Dutch words that have made their way into the lexicon of Bahasa Indonesian, and every year hundreds of students make their way – on scooters or by other means – to the Universitas Indonesia and the Erasmus Taalcentrum to learn the language.

In collaboration with the Dutch Embassy and the Erasmus Taalcentrum, we invited three exciting and promising Indonesian authors to participate in the citybooks project: Veronica B. Vonny, Akidah Gauzillah and Sihar Ramses Simatupang. Two Dutch-language writers will also take part. Annelies Verbeke, who previously wrote the citybook Home Town about her city of residence, Ghent, submerged herself in the cultural riches of the Asian megalopolis in February. The Surinamese writer Ruth San A Jong completes the line-up. At the invitation of deBuren and the Taalunie, she will briefly tour the Low Countries, in addition to an extensive visit to Jakarta.

The visual component of citybooks Jakarta is in the hands of photographer Amran Malik Hakim. Videographer Mirna Marini Damayanti Arifin will make a series of 24 City One Minute films. On location, coordinator Tino Djumini will be keeping everything on the straight and narrow.

 


citybooks mendarat di Jakarta, ibu kota Republik Indonesia sebuah kota yang hipermodern, di mana masih terbayang masa lampau yang dibagi bersama negera Belanda.

Sesudah Semarang, kota pelabuhan yang bersejarah telah dituang ke dalam lima cerita, 24 foto serta 24 video pada 2013, kini giliran Jakarta. Secara resmi jumlah penduduk di dalam kota Jakarta sendiri, terhitung lebih dari 10 juta orang. Di dalam lingkungan kota saja setidaknya jumlah penduduk sudah mencapai tiga kali lipatnya. Keramaian lalu lintas sudah melegenda, termasuk beberapa juta sepeda motor yang merupakan armada dengan warna beragam dan berkilau yang senantiasa memenuhi jalanan.

Sebuah masa lampau berbagi bersama negara Belanda, masih terus terbayang di kota yang sangat modern ini. Di wilayah yang dulu disebut Batavia, dapat dilacak kembali berbagai peninggalan berbentuk benda maupun kekenangan yang mengingatkan kita pada tempo doeloe. Di sejumlah papan nama, tercantum kata-kata pinjaman dari bahasa Belanda, yang hingga kini menjadi bagian dari khazanah kata bahasa Indonesia. Setiap tahun ratusan siswa baik yang memiliki maupun yang tidak memiliki motor pergi ke Universitas Indonesia dan juga ke Pusat Bahasa Belanda Erasmus untuk belajar Bahasa Belanda.

Bersama Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan Pusat Bahasa Belanda Erasmus kita mengajak tiga pengarang Indonesia ternama: Veronica B. Vonny, Akidah Gauzillah dan Sihar Ramses Simatupang . Selain itu ada dua pengarang tamu yang akan menulis cerita-cerita berbahasa Belanda yaitu Annelies Verbeke yang pernah menulis citybooks-Gent, kota dan tempat tinggalnya. Pada bulan Februari lalu dia berbaur dengan budaya yang begitu kaya, yang dimiliki megapol Asia ini. Selanjutnya Ruth San A Jong, seorang penulis asal Suriname yang akhirnya membuat seluruh gambaran ini lengkap. Atas permintaan deBuren dan lembaga bahasa Belanda Taalunie dia mengelilingi negeri Belanda dan Flandria, kemudian akan mengunjungi Jakarta.

Bagian visual ditangani oleh juru fotografi Amran Malik Hakim. Pembuat video adalah Mirna Marini D. Arifin yang sedang mengerjakan seri 24 City One Minute films. Tino Djumini selaku koordinator di tempat akan mengelola seluruh kegiatan terkait penyusunan citybooks ini, agar semua berjalan dengan baik

 

 


 

City One Minutes